Tentang saya (penulis)

http://www.facebook.com/VikoKelanaHilman

http://www.facebook.com/PantunMotivasi

http://www.facebook.com/PantunBerita

Sampingan | Posted on by | Meninggalkan komentar

Tentang saya (penulis)

http://www.facebook.com/VikoKelanaHilman

http://www.facebook.com/PantunMotivasi

http://www.facebook.com/PantunBerita

Sampingan | Posted on by | Meninggalkan komentar

Tentang saya (penulis)

http://www.facebook.com/VikoKelanaHilman

http://www.facebook.com/PantunMotivasi

http://www.facebook.com/PantunBerita

Sampingan | Posted on by | Meninggalkan komentar

Tentang saya (penulis)

http://www.facebook.com/VikoKelanaHilman

http://www.facebook.com/PantunMotivasi

http://www.facebook.com/PantunBerita

Sampingan | Posted on by | Meninggalkan komentar

Kepada siapa kita memberikan amanah? Kepada Orang Benar atau kepada Orang Pintar?

Ada orang benar dan ada orang pintar.

Apabila dikombinasi maka :

  • Ada orang benar yang pintar, ada orang benar yang tidak pintar.
  • Ada orang pintar yang benar, ada orang pintar yang tidak benar.

Jika kita ringkas lagi ada 3 jenis orang :

  1. Ada orang benar yang pintar
  2. Ada orang benar yang tidak pintar
  3. Ada orang pintar yang tidak benar

(‘orang pintar yang benar’ tentu sama saja dengan no. 1 hanya kebalikannya)

Kepada siapakah kita seharusnya memberikan kepercayaan (amanah)??

Setujukah Anda apabila kita ingin memberikan amanah hanya kepada mereka yang kita yakini benar? kita tentu tidak ingin amanah kita jatuh kepada orang yang tidak benar.

Orang benar itu :

  • dia selalu menjaga amanah yang sudah ada dengan baik.
  • dia hanya mau menerima amanah yang sesuai dengan kemampuannya.
  • apabila dirasa amanah yang akan dia terima tidak akan dapat dia jaga maka dia akan menolak amanah tersebut karena dia khawatir apabila dia menerima amanah tersebut dan dia tidak dapat menjaganya maka kepercayaan orang-orang kepada dia akan turun.

Jawaban atas pertanyaan kepada siapa seharusnya kita memberikan amanah adalah : berikan amanah kepada orang yang benar sesuai dengan kemampuan mereka.

Jadi :

Kepada orang no 1 (orang benar yang pintar) kepada merekalah amanah dapat kita berikan secara penuh

Kepada orang no 2 (orang benar yang tidak pintar) kepada mereka kita berikan kepercayaan sesuai dengan tingkat kepandaian mereka

Kepada orang no 3 (orang pintar yang tidak benar) apakah Anda akan memberikan kepercayaan kepada mereka? kalau saya tidak

Dipublikasi di Uncategorized | 3 Komentar

Posisi Bulan Purnama dan Gerhana Matahari

BULAN PURNAMA

Nabi Muhammad SAW sering diibaratkan sebagai bulan purnama :

mukanya bercahaya seperti bulan malam empat belas (bulan purnama) (HR Tirmidzi dalam asy-Syamail dengan isnadnya dari Hundun bin Abi Halal r.a)

Tulisan saya kali ini hendak memberikan suatu perumpamaan (tamsil) yang menjelaskan mengapa Nabi dikait-kaitkan dengan bulan purnama.

Bulan purnama adalah posisi bulan pada pertengahan bulan pada kalender yang berdasarkan pada peredaran bulan.

Bulan pada saat purnama memantulkan semua cahaya mentari ke bumi tanpa ada bayang-bayang bumi pada permukaannya.

Seakan-akan itu adalah suatu perumpamaan bahwa Nabi adalah orang yang : menerangi dunia (bumi) yang sedang dalam kegelapan (jaman jahiliyah) sedangkan Nabi sendiri tidak ternoda oleh kehidupan dunia.

Cahaya mentari diibaratkan sebagai cahaya (nur) petunjuk kebenaran dari Allah.

GERHANA MATAHARI

Posisi gerhana matahari, adalah posisi dimana bulan tepat berada antara matahari dan bumi. Bumi pada saat itu menjadi gelap karena cahaya matahari terhalang bulan. Apabila dipandang akan menyebabkan kebutaan.

Posisi bulan pada saat gerhana matahari tersebut ibarat manusia yang menghalangi cahaya petunjuk Allah kepada manusia.

Baik pada posisi bulan purnama maupun gerhana matahari air laut mengalami pasang karena gravitasi bulan meningkat. Hali ini ibaratnya baik orang yang memantulkan cahaya petunjuk Allah maupun yang menghalangi petunjuk Allah sama-sama memiliki daya tarik.

Tergantung kepada siapa manusia mengarahkan daya tarik tersebut, apakah kepada orang-orang yang menerangi dunia dengan cahaya petunjuk dari Allah atau kepada orang-orang menghalangi petunjuk Allah.

Dipublikasi di Uncategorized | Meninggalkan komentar

Amanah sebagai hasil dari berbuat benar (Shidiq)

Bagian ini bisa dikatakan sebagai sambungan dari tulisan saya :

bertambah dan berkurangnya amanah

Amanah adalah hasil dari berbuat benar

Karena kita berbuat benar maka orang menaruh kepercayaan kepada kita, kita pun ketika hendak menaruh kepercayaan kepada seseorang kita menginginkan kepercayaan kita berikan kepada orang yang benar.

Benar yang dimaksud di sini adalah benar menurut Allah SWT bukan benar menurut manusia.

Nabi Muhammad SAW sebelum menyebarkan ajaran Islam (sifat Nabi : tabligh/menyampaikan) nabi bergelar al amin (credible/dapat dipercaya). Gelar al amin tersebut diperoleh Nabi karena Beliau selalu berbuat yang benar-benar saja. Karena Nabi selalu berbuat benar maka orang-orang pun memberi gelar (As saadiq)

Kalau kalimat di atas saya masukkan ke dalam suatu persamaan matematis maka:

berbuat benar = memelihara tingkat amanah yang sudah ada + peluang mendapatkan amanah-amanah baru

Dalam bisnis bisa berarti : dengan berbuat benar maka pelanggan yang sudah ada akan tetap terpelihara atau akan tetap berbisnis dengan kita dan kita juga akan berpeluang mendapatkan pelanggan-pelanggan baru.

Apabila kemampuan kita dalam menangani pelanggan-pelanggan sudah maksimal dan penambahan pelanggan baru dapat mengakibatkan terganggunya pelayanan terhadap pelanggan yang sudah ada, jangan dipaksakan untuk menerima semua order yang datang karena dapat mengakibatkan turunnya kualitas layanan kita dan pelanggan yang kurang puas dengan layanan akan memindahkan order berikutnya ke perusahaan lain.

Itulah saatnya bagi kita untuk mengembangkan usaha, bisa berupa : memperkerjakan orang lain, membuka cabang, membuka kesempatan bekerjasama, dsb

Dipublikasi di Amanah Dalam Bisnis, The Power of Amanah | Meninggalkan komentar