Allah Tempat Bergantung (Allahush Shamad)

Ash Shamad diartikan dengan tempat bergantung.

Secara ringkas yang namanya bergantung itu yaitu bergantung kepada ketentuan, kebijakan atau keputusan. Ketentuan atau kebijakan atau keputusan siapa yang akan menjadi patokan kita.

Bila ada suatu persoalan atau permasalahan maka sebagai karyawan kita terkadang menggantungkan kebijakan kepada atasan, dengan berkata seperti berikut : “nanti saya sampaikan masalah ini ke atasan saya, apa pun keputusan dia itulah yang harus saya lakukan”

Dalam hal seperti di atas seseorang menggantungkan dirinya kepada atasannya.

Ada dua tempat manusia bergantung, yaitu :

  • Bergantung kepada makhluk atau kepada selain Allah
  • Bergantung kepada Allah

BERGANTUNG KEPADA MAKHLUK :

Makhluk (ciptaan) adalah sesuatu yang tidak abadi, tidak ada manusia atau benda apapun yang abadi.

Kalau kita bergantung kepada manusia, manusia tempat kita bergantung adalah makhluk yang juga memiliki kebutuhan untuk hidup, maka bisa jadi manusia tempat kita bergantung tersebut akan mengambil keuntungan dari kita atau dengan kata lain akan memanfaatkan kita. contoh : apabila kita telah tergantung kepada suatu produk yang ditawarkan seseorang maka kita bisa dimanfaatkan oleh penjual produk tersebut dengan jalan menaikkan harga, kita yang telah tergantung mau tidak mau harus mengeluarkan harta lebih banyak untuk bisa mendapatkannya.

Bila kita kehilangan tempat kita bergantung maka akan mengakibatkan keguncangan kepada kehidupan kita. Contohnya : kita kehilangan pekerjaan kita tempat kita menggantungkan hidup, orang tua tempat kita bergantung meninggal dunia, dan sebagainya.

Termasuk ke dalam jenis ini yaitu bergantung kepada diri sendiri. Menggantungkan diri kepada diri sendiri adalah menuruti apa kata hati. Apa yang kita rasa sesuai, apa yang kita rasa benar maka itulah yang menjadi keputusan kita untuk kita jadikan patokan untuk menjalani kehidupan kita.

Kita juga adalah manusia yang tidak hidup abadi. Bergantung kepada diri sendiri adalah suatu bentuk kesombongan, padahal tidak boleh ada rasa sombong pada diri manusia.

BERGANTUNG KEPADA ALLAH

Sebagai makhluk ciptaan Allah, Allah memiliki kita sepenuhnya.

Sebagai manusia yang jiwa dan raga dimiliki Allah, maka kita tidak boleh menggantungkan diri kepada ketentuan, kebijakan atau keputusan yang dibuat oleh makhluk.

Karena jiwa dan raga ini adalah sejatinya milik Allah maka harus kita jaga dengan sebaik-baiknya. Produk dan jasa yang kita pakai haruslah yang sesuai dengan ketentuan Allah.

Tidak bisa kita berkata “saya mau merokok atau tidak terserah saya, ini mulut, mulut saya, uang yang saya belikan rokok juga uang saya”. Karena mengganggap tubuh dan harta kita sebagai milik kita, maka kita seringkali membuat ketentuan sendiri mau kita apakan tubuh dan harta ini.

Allah harus lah menjadi satu-satunya tempat bergantung bagi para orang Islam (QS Al Ikhlas; 2), Ketentuan yang Allah tetapkan dalam Al Qur’an dan Al Hadits lah yang harus kita jadikan patokan dalam hidup kita.

Allah tidak seperti makhlukNya Dia tidak membutuhkan sesuatu. Bila kita tergantung kepada Allah maka sesungguhnya Allah menghendaki yang terbaik untuk kita. Bagaimana tidak? kita ini adalah milikNya. Ketentuan yang Allah buat adalah yang paling sesuai bagi manusia karena Allah yang menciptakan manusia.

Ada pertanyaan : Sebagai manusia yang mencari kebutuhan hidup, terkadang kita tidak bisa lepas dari interaksi dengan manusia lain, bahkan kita bekerja dengan sesama manusia sebagai pimpinan kita, bagaimana kita menjadikan Allah sebagai tempat bergantung dengan keadaan kita seperti ini?

Jawaban mengenai hal ini sebenarnya ada pada tulisan yang berjudul Tiga Jenis Bagan Organisasi Perusahaan

Di sana tertera siapa yang menjadi tempat bergantung.

Pada bagan organisasi pertama yang menjadi tempat bergantung adalah pemilik usaha

Pada bagan organisasi kedua pemilik usaha mengarahkan semua personil di bawahnya untuk menjadikan pelanggan sebagai tempat bergantungnya

Pada bagan organisasi ketiga lah Allah yang menjadi sang raja (Al Malik) yang menjadi tempat bergantung (Ash Shamad)

Pada bagan organisasi ketiga tidak ada lagi manusia sebagai atasan atau bawahan, semuanya sama/setara di bawah Allah.

Di bawah ini adalah modifikasi dari bagan organisasi ke 3

Atasan sebenarnya adalah manusia yang memakai jasa manusia lain, jadi pada bagan organisasi yang dimodifikasi ini atasan/perusahaan disebut dengan ‘pemakai jasa’.

Bawahan sejatinya adalah manusia-manusia yang menyediakan jasa untuk para ‘atasan’, oleh karena itu ‘bawahan’ disebut dengan ‘penyedia jasa’.

Pemakai jasa (atasan/perusahaan) dan penyedia jasa (karyawan/buruh) berposisi sejajar di bawah Allah. Ke dua pihak menjadikan Allah sebagai Ash Shamad mereka (mereka menjadikan ketentuan Allah sebagai pedoman mereka).

Pada Bagan organisasi ke tiga ada pula penulis menggambarkan dengan bagan seperti ini

Bagan tersebut pun tetap menggambarkan : walau pun pengelola atau management dan pemilik usaha adalah manusia-manusia yang maqam atau posisinya berada di atas, tetapi mereka tetap menempatkan Allah di tempatnya yang paling mulia di atas semua manusia, dan dengan demikian ketentuan-ketentuan Allah yang menjadi pedoman semua manusia yang ada pada organisasi tersebut.

Manusia yang memposisikan dirinya di atas orang lain dan memandang orang-orang lain rendah atau di bawah dia adalah suatu kesombongan.

Bila ada seseorang manusia yang sedang berada di atas dan orang-orang di bawahnya dia perintahkan semaunya dia tanpa mengikuti ketentuan/pedoman Allah. Maka orang yang berposisi di atas tersebut telah memutus hubungan dengan Allah. Segala yang mereka lakukan hanya akan mendapatkan keuntungan di dunia saya. Sang atasan hanya mendapat keuntungan dunia, sang bawahan pun hanya mendapatkan bayaran di dunia.

Manusia adalah setara di hadapan Allah, tidak ada tingkatan manusia di pandangan Allah kecuali tingkatan ketakwaannya. Allah juga berfirman: “Sesungguhnya orang yang paling mulia di antara kalian di sisi Allah ialah orang yang paling bertakwa di antara kalian. ” (Al-Hujurat: 13)

Kepada manusia yang merasa di atas atau menyombongkan diri (takabbur) dan memandang orang lain rendah, Islam mengajarkan agar kita berlaku sombong terhadap mereka dan kepada manusia yang berlaku rendah hati (tawadhu), kita diajarkan untuk berlaku tawadhu terhadap mereka. Bukan sebaliknya rendah hati terhadap orang sombong dan sombong terhadap orang yang tawadhu.

MY WAY VS IYYAKA NA’BUDU

Dalam mengambil suatu keputusan atau membuat suatu kebijakan, manusia terbagi dua, yaitu :

  • manusia yang mengikuti apa kata hatinya
  • manusia yang menjadikan pedoman Allah dan rasulNya dalam mengambil keputusan

Manusia yang mengikuti apa kata hatinya, membuat keputusan berdasarkan apa yang dia rasa benar. Apa yang dia rasa sesuai bagi dirinya maka itulah yang akan dia lakukan.

Manusia yang menjadikan pedoman Allah dan rasulnya, mengambil keputusan atau membuat kebijakan yang didasarkan pada Al Quran dan Al Hadits.

Manusia yang menjadikan kata hatinya sebagai pedoman untuk mengambil keputusan belum tentu keputusan atau kebijakan yang dia buat sesuai dengan pedoman Allah.

Manusia yang menjadikan pedoman Allah dalam membuat keputusan atau kebijakan, akan membuat membuat kebijakan yang sesuai dengan pedomanNya. Dengan kata lain mengikuti perintahNya dan menjauhi laranganNya.

Manusia yang menjadikan apa kata hatinya, bisa jadi hanya akan mendapatkan keberhasilan atau keuntungan, tapi keuntungan yang dia dapat bisa jadi hanya berupa keuntungan di dunia saja.

Manusia yang menjadikan pedoman Allah, insya Allah akan mendapatkan keuntungan, dan keuntungan yang dia dapatkan bukan hanya berupa keuntungan di dunia saja tetapi juga dia akan mendapatkan keuntungan di kehidupan akhirat.

Salah satu kebiasaan dari orang-orang yang membuat keputusan berdasarkan apa kata hatinya adalah dia bisa jadi menyukai lagu ‘My Way’ yang dinyanyikan Frank Sinatra, dengan liriknya yang terkenal : “I did it my way” yang artinya kulakukan dengan caraku.

Sedangkan orang yang memakai pedoman Allah akan sangat meresapi ayat dalam surat Al Fatihah yang berbunyi “Iyyaka na’budu” (hanya kepadamu kami beribadah), Ibadah dalam artian bukan hanya mengerjakan shalat, puasa, zakat dan sebagainya, tapi juga dalam segala bidang kehidupannya dia menjadikan pedoman Allah dalam membuat keputusan.

Akhir kata tulisan ini menyatakan bahwa kita manusia yang juga merupakan milik Allah, adalah sangat tidak tepat bila kita menjadikan kata hati kita seebagai pedoman kita dalam menjalani kehidupan, karena kita hanya makhluk titipan/amanah dan yang memiliki kita adalah Allah, maka sudah sepatutnya kita menjadikan pedoman Allah dalam membuat kebijakan yang akan kita lakukan.

Pos ini dipublikasikan di The Power of Amanah. Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s